Dwi Susanti


Kami memahami makna marketing sebagai dakwah, karena pada dasarnya dakwah ini adalah menjual dan mempromosikan nilai Islam yang kita yakini kebenarannya. Makna mempromosikan dan menjual ini memang menjadi unik karena seringkali kita melihat dakwah hanya sebatas konten yang akan kita sampaikan. Padahal jika melihat dalam kacamata umum, seseorang tidak mungkin melihat sesuatu lebih detail ketika ia tidak tertarik dengan tampilan luarnya. Oleh karena itu dalam prosesi marketing LDK ini perlu memperhatikan beberapa hal, antara lain :

  1. Konten
  2. Sasaran / segmentasi objek dakwah
  3. Pengemasan
  4. Pemasaran / promosi
  5. Closing / transaksi / kesepakatan

Hal-hal yang diperhatikan ini memang tampak seperti menjual produk, memang kita dalam berdakwah ini akan berurusan dalam penjualan produk yang sudah Allah berikan kepada kita melalui Nabi Muhammad. Konten dalam hal marketisasi LDK terkait kepada value atau materi yang akan disampaikan, kita perlu memahami kebutuhan objek dakwah kita dan menyesuaiakan konten yang akan disampaikan dengan keberterimaan objek dakwah. Sasaran adalah target market yang menjadi penerima agenda dakwah kita, objek dakwah haruslah terklasifikasi dan tersegmentasi agar tepat tujuan, contoh : agenda tabligh untuk semua mahasiswa, agenda tasyakuran akbar untuk mahasiswa tingkat satu, agenda diklat mahasiswa muslim untuk mahasiswa tingkat dua, agenda survival untuk mahasiswa tingkat tiga dan career sharing untuk mahasiswa tingkat empat. Pengemasan dalam konteks agenda dakwah seputar bagaimana pencitraan yang akan timbul kepada masyarakat kampus. GAMAIS ITB mencoba mencitrakan LDK yang lembut dan ramah, hal ini terimplementasikan dalam berbagai bentuk, salah satu nya publikasi kami yang selalu tampak lucu. Selain itu penamaan kegiatan yang tampak “ramah di mata dan telinga” seperi metamorphosis, look inside my environtment, GAMAIS PEDULI, A-day, BBQ, dan lain-lain. Pemasaran terkait bagaimana kita bisa menjual agenda ini dengan baik, prosesi penjualan paling efektif adalah melalui kader LDK itu sendiri, bagaimana seorang kader mampu berkomunikasi dan menjual agenda dakwah kita, disinilah menjadi sebuah tadhrib amal tersendiri bagi kader LDK untuk belajar bagaimana menjadi da’i dalam arti sesungguhnya, yakni menyeru dan mengajak. Selanjutnya yang terakhir adalah closing, dimana telah terjadi kesepahaman antara da’i dan mad’u dimana seorang mad’u bersedia menerima nilai yang kita sampaikan atau dalam konteks kegiatan LDK, seorang mad’u sepakat untuk mengikuti cara yang kita rencanakan.

Dalam menjalankan amanah dakwah tentunya syiar menjadi sebuah tahapan yang selalu digunakan. dalam skematik dakwah di masyarakat. Syiar mempunyai sebuah posisi dalam mengubah masyarakat umum menjadi masyarakat yang semi-afliasi dengan Islam.pertanyaan nya apakah syiar kita sudah memenuhi kaidah manajemen yang baik agar dakwah kita efesien dan efektif ? pada dasarnya dalam menentukan arah gerak syiar selalu berbasis pada sirah  nabawiyah. Melihat dan memahami langkah bagaimana Rasul melakukan manuver dakwah hingga Islam bisa berada di seluruh pelosok  dunia ini.

Serigkali kita berbicara mengenai bagaimana menyentuh masa kampus, bagaimana menyusun agenda dakwah, bagaimana strategi syiar ramadhan dan lain sebagainya. Akan tetapi, kita sering lupa bahwa kita bukanlah event organizer biasa, kita adalah jundullah yang mempunyai peran lebih dalam masyarakat. seorang kader dakwah kampus bukanlah EO, melainkan seorang da’i, oleh karena itu jika berbicara tentang bagaimana marketisasi yang terbaik, saya akan langsung mengatakan bahawa marketisasi terbaik adalah ketika kita sebagai kader dakwah secara terus-menerus direct seliing atau mengajak secara langsung melalui lisan kita kepada objek dakwah untuk bergabung dalam barisan dakwah kita. Untuk itu semua saya menyadari bahwa kunci dalam dakwah adalah komunikasi. Allah mengajarkan kepada kita untuk berdakwah dengan hikmah dan dengan cara yang baik. Dalam kaitannya dengan komunikasi adalah bagaiamana kita bisa menyampaikan konten dakwah dari Allah dengan cara terbaik mungkin agar diterima oleh masyarakat.



Algoritma berpikir kita dalam menyampaikan sesuatu, yang saya jabarkan secara singkat sebagai berikut :
  1. Tentukan Pesan apa yang mau disampaikan. Seorang pengirim pesan perlu memahi isi pesan yang akan disampaikan. Dengan pemahaman yang baik akan berdampak pada penjiwaan dalam bergerak, dan efektifitas tingkat ketersampaian pesan.
  2. Menentukan metode atau sarana yang akan digunakan dalam menyampaika pesan, kita harus pandai memilih cara, salah memilih akan berdampak besar dalam keberlanjutan dakwah kita.
  3. Memastikan apakah penerima pesan sudah siap untuk menerima pesan yang akan kita sampaikan, pemahaman objek dakwah diperlukan disini.
  4. Algoritma berpikir ini sangat penting dipahami, akan tetapi algoritma ini tidak akan berguna jika seorang kader tidak memahami pesan, sarana dan penerima pesan.
Dalam skala individu pun bisa kita lakukan, dengan tetap memperhatikan pola berpikir ini, pola berpikir sales. Saya mencoba mengajak kepada seluruh kader dakwah untuk menerapkan cara berpikir bahwa dakwah ini adalah ”jualan”, dengan harapan akan ada perubahan tampilan dakwah dimana kita bisa menggunakan cara berpikir “konten samawi, pengemasan Ardhi”.  Oleh karena itu diperlukan penanaman jiwa marketing ini pada semua kader, karena kader adalah sales dakwah kita di kampus.




Menganalogikan Da’i sebagai penjual dan objek dakwah sebagai pembeli merupakan analogi yang tepat, ketika produk dakwah kita tidak diterima, maka jangan menyalahkan objek dakwah, justru ini adalah kesempatan bagi kita untuk mengevaluasi dan memperbaiki produk dan pengemasan dakwah kita. Sebagai penutup bagian ini saya akan menyampaikan 5 parameter yang bisa digunakan dalam menilai apakah syiar kita sudah efesien, efektif dan andal.

1. Cash flow
    dalam perencanaan keuangan pada agenda syiar haruslah berpegang pada nilai balance cashflow atau bahkan surplus cashflow. dakwah butuh jihad, dan jihad butuh dana. Pendanaan yang baik akan membuat syiar kita tidak terkesan dipaksakan dan bisa optimal. Syiar yang baik tidaklah harus mahal. Akan tetapi cocok dan sesuai dengan kebutuhan objek dakwah. disinilah perencanaan syiar harus memikirkan dana, jangan sampai dana yang ada terlalu besar. Walau memang dengan rencana anggaran yang besar, bisa menjadikan kader dakwah kreatif dalam menggalang dana. Sebuah lembaga dakwah kampus seharusnya bisa menghasilkan uang dalam jumlah besar. kebebasan finansial membuat sebuah LDK bisa mandiri serta independen dari semua pihak.

2. Appreciation
   apresiasi ini adalah tanggapan atau respon dari semua stakeholder yang terkait dengan agenda yang di adakan. Apresiasi pertama tentu dilihat dari perserta atau objek dri agenda yang dibuat. Apakah mereka puas dan senang dengan agenda yang disusun. karena tujuan syiar ini adalah mentransformasi objek dakwah yang masi belum tau menjadi tau. Penilaian termudah dalam melihat apresiasi adalah dengan adanya orang-orang yang tergabung dalam simpatisan dakwah. dalam hal ini peran data sangat penting untuk di gunakan dan berdungsi dalam melihat evaluasi agenda dakwah. Stake holder lainnya seperti pengisi acara, pihak yang diajak kerjasama dana, donatur, dsb. Apresiasi dari mereka sangat penting karena tanpa mereka agenda  dakwah ini tidaklah akan berjalan dengan lancar.

3. Participation
    ada dua pihak dalam hal partisipasi, pihak panitia dan pihak objek dakwah itu sendiri.  partisipasi pihak panitia sangat penting. kita ini jamaah dakwah sehingga keberhasilan dakwah ini tampak pada
kebertambahan keimanan para subjek dakwah. dan pada hakekatnya setelah agenda dakwah sesuai dengan sirah, seharusnya terjadi pertambahan subjek. Partisipasi dari massa kampus atau objek dakwah akan agenda kita, bisa dilihat dari cara mereka merespon dan mendukung agenda kita. Apakah hanya sebagai pengunjung atau juga memberikan dukungan lainnya.

4. Value
    Selalu ada fikroh atau pemikiran yang akan disampaikan dalam setiap syiar kita. Penyebaran fikroh ini menjadi sebuah misi dalam dakwah  kita. Selain itu nilai yang kita maksudkan sejatinya bisa menjadi corong opini dan mengubah pola pikir dari objek dakwah kita. Dengan selalu berpegang pada value yang akan disampaikan, dakwah ini akan senantiasa selalu pada asholahnya. Pentingnya penentuan value juga harus diperhatikan. Jangan sampai nilai atau pesan yang disampaikan kontraproduktif, karena tidak sesuai dengan kebutuhan objek.

5. Documentation
    dokumentasi menjadi hal yang sangat mahal. kebiasaan diantara kita semua dokumentasi seringkali  terlupakan. sehingga tidak ada hal yang bisa diturunkan ke penerus kita di lembaga dakwah. Ada dua hal yang haru terdokumentasi dengan baik. pertama dokumentasi data seperti notulensi rapat,proposal, ide-ide, dan lain-lain.. kedua dokumentasi foto dan film kegiatan. penyimpanan data ini juga harus terorganisir dengan baik sehingga bisa jadi warisan penting bagi penerus dakwah kita di masa yang akan datang

Ditulis oleh
Ridwansyah yusuf achmad



Label: 0 komentar | edit post
Reaksi: