Dwi Susanti

Tak ada gemericik air yang lebih romantis, selain hujan di akhir Desember. Lamanya mengajarkan, bahwa kita harus punya tabungan kesabaran untuk ujian yang tak terduga. Dinginnya mengingatkan, bahwa ada orang yang harus kita lindungi, kita dekap dalam kasih sayang. Basahnya membekas, seperti kebaikan orang lain yang sudah selayaknya berbekas di dalam hati. Aromanya menggugah, merayu hati untuk bersyukur atas apapun kehidupan kita. Kecipratnya menandakan, ada kesan yang kita tinggalkan di hati orang lain; baik ataupun buruk
Tak ada rinai air yang lebih mendebarkan, selain hujan di akhir Desember. Saat perjalanan hidup harus dilihat kembali. Saat rencana-rencana harus disusun lagi. Saat targetan-targetan harus ditetapkan. Saat tekad harus kembali dibulatkan. Saat pintu maaf dibuka selebar-lebarnya. Saat kesalahan orang lain dilupakan selupa-lupanya. Saat hati harus dibuka selapang-lapangnya. Saat masa depan harus kembali ditata.
Tak ada gemericik yang lebih syahdu, selain hujan di akhir Desember. Saat yang tepat untuk berkaca diri; apakah sekarang kita adalah benar- benar kita? Atau kita hanyalah sosok yang diinginkan oleh orang lain yang begini-begitu, tapi bukan yang kita ingini. Atau kita hanyalah sosok yang dibentuk lingkungan dan keadaan, padahal kita tidak pernah menginginkan seperti sosok itu. Jika begitu, gemericik di luar, gemericik di atas genting adalah soundtrack terbaik untuk memproklamasikan kemerdekaan diri; menjadi diri sendiri yang apa adanya. Tak peduli seburuk apapun itu, tak peduli seberapa anehpun bentuknya, tak peduli orang lain akan berkata apa. Karena tak ada yang lebih menenangkan; selain jadi diri kita sendiri.
Tak ada buliran air yang lebih menggetarkan hati, selain hujan di akhir Desember. Saat masa lalu harus dikuburkan baik-baik, untuk sesekali diziarahi dengan tenang dan lapang, agar tak mengganggu masa kini apalagi masa depan. Karena sebahagia apapun masa lalu, masa lalu tetaplah masa lalu. Yang hanya meninggalkan kenangan dan pelajaran, tapi tempat paling tak layak untuk kita huni. Karena semenyakitkan apapun masa lalu, masa lalu tetaplah masa lalu. Kita tidak bisa memeperbaikinya, yang bisa kita perbaiki adalah masa depan kita.
Tak ada antalogi rintik yang lebih menantang, selain hujan di akhir Desember. Saat keputusan-keputusan harus diambil. Saat pilihan-pilihan harus diseleksi. Saat konsekuensi-konsekuensi harus diperhitungkan. Saat kedewasaan harus dipertaruhkan. Saat kebijaksanaan mutlak digunakan. Saat keberanian begitu dibuthkan. Demi masa depan yang lebih baik. Karena sesulit apapun sebuah pilihan, komitmen akan membuatnya lebih mudah. Karena sesalah apapun sebuah keputusan, tanggung jawab akan membuatnya lebih baik. Karena seberat apapun sebuah konsekuensi, tekad yang kuat akan membuatnya lebih ringan. Karena serumit apapun persoalan hidup, kebijaksanaan akan membuatnya lebih sederhana. Karena sebesar apapun tantangan hidup, keberanian akan membuatnya lebih kecil. Karena sebanyak apapun masalah yang dihadapi, kedewasaan akan membantu banyak, berlalu dengan indah.
Well, selamat menikmati hujan di akhir Desember.

___ Genap, Nazrul Anwar
0 komentar | edit post
Reaksi: 
Dwi Susanti


Karena untuk sesuatu yang sebegitu berharganya seperti hati, kamu tak perlu meminta. Bagaimana kamu tega meminta sesuatu yang begitu berharga dari seeorang, sementara apa yang kamu minta itu adalah hal terpenting dalam hidupnya. Dia sendiri sangat membutuhkannya. Maka perkara hati, kamu tak perlu meminta. Tapi jangan juga menunggu dipersilahkan. Karena bisa jadi, kesempatan itu tidak pernah kamu dapatkan.

Kamu hanya perlu memastikan apakah hati itu terbuka untukmu? Apakah dia rela berbagi hatinya denganmu? Apakah hatinya menerima kamu? Jika iya, masuklah ke hatinya dengan cara paling terhormat yang kamu bisa, untuk saling memiliki juga berbagi ruang, sampai habis sisa usia.

Jika tidak, well, pada akhirnya, yang kamu butuhkan adalah pasangan yang menerima kamu dengan sepenuh hati. Jadi kalau hatinya belum berkenan menerima kamu -oh maaf, dalam hal ini kita harus tegas dan jelas dan tanpa ba-bi-bu basa-basi- aku ulang sekali lagi ya; Jadi kalau dia tidak menerima kamu, entah dengan bahasa penolakan selembut dan sehalus apapun, it’s so simple;

Mungkin dia memang orang yang kamu inginkan, tapi dia bukan orang yang kamu butuhkan.

Menyakitkan memang, tapi lagi-lagi maaf, aku tak akan menghibur kamu dengan kata-kata mutiara pelipur lara semisal;

‘tenang saja, nanti kamu akan mendapat pengganti yang lebih baik’

karena pada kenyataannya, kamu belum tentu dapat yang lebih baik.

Atau kalimat;

‘mungkin dia bukan jodoh kamu’
karena pada kenyataannya dia memang bukan jodoh kamu, bukan mungkin lagi.

Atau kalimat;

‘kalau jodoh nggak akan kemana’
karena itu artinya kamu masih berharap, belum bisa move-on.

Udahlah, nggak usah menghibur diri dengan mencari pembenaran sana-sini. Nanti kamu capek sendiri, tahu. Lebih baik belajar menerima kenyataan walaupun pahit dan menyakitkan.

Cause you know what? Tuhan memang menciptakan rasa pahit, sedih, menyakitkan, menyesakkan, tak lain dan tak bukan, agar kita bisa merasakan kebahagiaan yang lebih mendalam. Nanti kalau waktunya tiba, saat kamu bertemu dengan seseorang yang sepenuhnya menerima kamu, juga hati yang akan kamu tinggali, pecayalah, kamu akan merasakan kebahagiaan yang berkali-lipat, kebahagiaan yang begitu mendalam, kebahagiaan yang diresapi dari rasa sakit dan menyesakkan tadi. Kebahagiaan yang memang sudah disiapkan-Nya sebagai pengganti bagi mereka yang merelakan apa yang telah berlalu, bagi mereka yang menerima apa yang sudah terjadi, bagi mereka yang berusaha untuk memulai kembali.

So, It’s time to move on, to open up of yourself again. I am not telling you it’s going to be easy, I am telling you it’s going to be worth it.

___ Genap, Nazrul Anwar
0 komentar | edit post
Reaksi: