Showing posts with label Referensiiii. Show all posts
Showing posts with label Referensiiii. Show all posts
Unknown


Kami memahami makna marketing sebagai dakwah, karena pada dasarnya dakwah ini adalah menjual dan mempromosikan nilai Islam yang kita yakini kebenarannya. Makna mempromosikan dan menjual ini memang menjadi unik karena seringkali kita melihat dakwah hanya sebatas konten yang akan kita sampaikan. Padahal jika melihat dalam kacamata umum, seseorang tidak mungkin melihat sesuatu lebih detail ketika ia tidak tertarik dengan tampilan luarnya. Oleh karena itu dalam prosesi marketing LDK ini perlu memperhatikan beberapa hal, antara lain :

  1. Konten
  2. Sasaran / segmentasi objek dakwah
  3. Pengemasan
  4. Pemasaran / promosi
  5. Closing / transaksi / kesepakatan

Hal-hal yang diperhatikan ini memang tampak seperti menjual produk, memang kita dalam berdakwah ini akan berurusan dalam penjualan produk yang sudah Allah berikan kepada kita melalui Nabi Muhammad. Konten dalam hal marketisasi LDK terkait kepada value atau materi yang akan disampaikan, kita perlu memahami kebutuhan objek dakwah kita dan menyesuaiakan konten yang akan disampaikan dengan keberterimaan objek dakwah. Sasaran adalah target market yang menjadi penerima agenda dakwah kita, objek dakwah haruslah terklasifikasi dan tersegmentasi agar tepat tujuan, contoh : agenda tabligh untuk semua mahasiswa, agenda tasyakuran akbar untuk mahasiswa tingkat satu, agenda diklat mahasiswa muslim untuk mahasiswa tingkat dua, agenda survival untuk mahasiswa tingkat tiga dan career sharing untuk mahasiswa tingkat empat. Pengemasan dalam konteks agenda dakwah seputar bagaimana pencitraan yang akan timbul kepada masyarakat kampus. GAMAIS ITB mencoba mencitrakan LDK yang lembut dan ramah, hal ini terimplementasikan dalam berbagai bentuk, salah satu nya publikasi kami yang selalu tampak lucu. Selain itu penamaan kegiatan yang tampak “ramah di mata dan telinga” seperi metamorphosis, look inside my environtment, GAMAIS PEDULI, A-day, BBQ, dan lain-lain. Pemasaran terkait bagaimana kita bisa menjual agenda ini dengan baik, prosesi penjualan paling efektif adalah melalui kader LDK itu sendiri, bagaimana seorang kader mampu berkomunikasi dan menjual agenda dakwah kita, disinilah menjadi sebuah tadhrib amal tersendiri bagi kader LDK untuk belajar bagaimana menjadi da’i dalam arti sesungguhnya, yakni menyeru dan mengajak. Selanjutnya yang terakhir adalah closing, dimana telah terjadi kesepahaman antara da’i dan mad’u dimana seorang mad’u bersedia menerima nilai yang kita sampaikan atau dalam konteks kegiatan LDK, seorang mad’u sepakat untuk mengikuti cara yang kita rencanakan.

Dalam menjalankan amanah dakwah tentunya syiar menjadi sebuah tahapan yang selalu digunakan. dalam skematik dakwah di masyarakat. Syiar mempunyai sebuah posisi dalam mengubah masyarakat umum menjadi masyarakat yang semi-afliasi dengan Islam.pertanyaan nya apakah syiar kita sudah memenuhi kaidah manajemen yang baik agar dakwah kita efesien dan efektif ? pada dasarnya dalam menentukan arah gerak syiar selalu berbasis pada sirah  nabawiyah. Melihat dan memahami langkah bagaimana Rasul melakukan manuver dakwah hingga Islam bisa berada di seluruh pelosok  dunia ini.

Serigkali kita berbicara mengenai bagaimana menyentuh masa kampus, bagaimana menyusun agenda dakwah, bagaimana strategi syiar ramadhan dan lain sebagainya. Akan tetapi, kita sering lupa bahwa kita bukanlah event organizer biasa, kita adalah jundullah yang mempunyai peran lebih dalam masyarakat. seorang kader dakwah kampus bukanlah EO, melainkan seorang da’i, oleh karena itu jika berbicara tentang bagaimana marketisasi yang terbaik, saya akan langsung mengatakan bahawa marketisasi terbaik adalah ketika kita sebagai kader dakwah secara terus-menerus direct seliing atau mengajak secara langsung melalui lisan kita kepada objek dakwah untuk bergabung dalam barisan dakwah kita. Untuk itu semua saya menyadari bahwa kunci dalam dakwah adalah komunikasi. Allah mengajarkan kepada kita untuk berdakwah dengan hikmah dan dengan cara yang baik. Dalam kaitannya dengan komunikasi adalah bagaiamana kita bisa menyampaikan konten dakwah dari Allah dengan cara terbaik mungkin agar diterima oleh masyarakat.



Algoritma berpikir kita dalam menyampaikan sesuatu, yang saya jabarkan secara singkat sebagai berikut :
  1. Tentukan Pesan apa yang mau disampaikan. Seorang pengirim pesan perlu memahi isi pesan yang akan disampaikan. Dengan pemahaman yang baik akan berdampak pada penjiwaan dalam bergerak, dan efektifitas tingkat ketersampaian pesan.
  2. Menentukan metode atau sarana yang akan digunakan dalam menyampaika pesan, kita harus pandai memilih cara, salah memilih akan berdampak besar dalam keberlanjutan dakwah kita.
  3. Memastikan apakah penerima pesan sudah siap untuk menerima pesan yang akan kita sampaikan, pemahaman objek dakwah diperlukan disini.
  4. Algoritma berpikir ini sangat penting dipahami, akan tetapi algoritma ini tidak akan berguna jika seorang kader tidak memahami pesan, sarana dan penerima pesan.
Dalam skala individu pun bisa kita lakukan, dengan tetap memperhatikan pola berpikir ini, pola berpikir sales. Saya mencoba mengajak kepada seluruh kader dakwah untuk menerapkan cara berpikir bahwa dakwah ini adalah ”jualan”, dengan harapan akan ada perubahan tampilan dakwah dimana kita bisa menggunakan cara berpikir “konten samawi, pengemasan Ardhi”.  Oleh karena itu diperlukan penanaman jiwa marketing ini pada semua kader, karena kader adalah sales dakwah kita di kampus.




Menganalogikan Da’i sebagai penjual dan objek dakwah sebagai pembeli merupakan analogi yang tepat, ketika produk dakwah kita tidak diterima, maka jangan menyalahkan objek dakwah, justru ini adalah kesempatan bagi kita untuk mengevaluasi dan memperbaiki produk dan pengemasan dakwah kita. Sebagai penutup bagian ini saya akan menyampaikan 5 parameter yang bisa digunakan dalam menilai apakah syiar kita sudah efesien, efektif dan andal.

1. Cash flow
    dalam perencanaan keuangan pada agenda syiar haruslah berpegang pada nilai balance cashflow atau bahkan surplus cashflow. dakwah butuh jihad, dan jihad butuh dana. Pendanaan yang baik akan membuat syiar kita tidak terkesan dipaksakan dan bisa optimal. Syiar yang baik tidaklah harus mahal. Akan tetapi cocok dan sesuai dengan kebutuhan objek dakwah. disinilah perencanaan syiar harus memikirkan dana, jangan sampai dana yang ada terlalu besar. Walau memang dengan rencana anggaran yang besar, bisa menjadikan kader dakwah kreatif dalam menggalang dana. Sebuah lembaga dakwah kampus seharusnya bisa menghasilkan uang dalam jumlah besar. kebebasan finansial membuat sebuah LDK bisa mandiri serta independen dari semua pihak.

2. Appreciation
   apresiasi ini adalah tanggapan atau respon dari semua stakeholder yang terkait dengan agenda yang di adakan. Apresiasi pertama tentu dilihat dari perserta atau objek dri agenda yang dibuat. Apakah mereka puas dan senang dengan agenda yang disusun. karena tujuan syiar ini adalah mentransformasi objek dakwah yang masi belum tau menjadi tau. Penilaian termudah dalam melihat apresiasi adalah dengan adanya orang-orang yang tergabung dalam simpatisan dakwah. dalam hal ini peran data sangat penting untuk di gunakan dan berdungsi dalam melihat evaluasi agenda dakwah. Stake holder lainnya seperti pengisi acara, pihak yang diajak kerjasama dana, donatur, dsb. Apresiasi dari mereka sangat penting karena tanpa mereka agenda  dakwah ini tidaklah akan berjalan dengan lancar.

3. Participation
    ada dua pihak dalam hal partisipasi, pihak panitia dan pihak objek dakwah itu sendiri.  partisipasi pihak panitia sangat penting. kita ini jamaah dakwah sehingga keberhasilan dakwah ini tampak pada
kebertambahan keimanan para subjek dakwah. dan pada hakekatnya setelah agenda dakwah sesuai dengan sirah, seharusnya terjadi pertambahan subjek. Partisipasi dari massa kampus atau objek dakwah akan agenda kita, bisa dilihat dari cara mereka merespon dan mendukung agenda kita. Apakah hanya sebagai pengunjung atau juga memberikan dukungan lainnya.

4. Value
    Selalu ada fikroh atau pemikiran yang akan disampaikan dalam setiap syiar kita. Penyebaran fikroh ini menjadi sebuah misi dalam dakwah  kita. Selain itu nilai yang kita maksudkan sejatinya bisa menjadi corong opini dan mengubah pola pikir dari objek dakwah kita. Dengan selalu berpegang pada value yang akan disampaikan, dakwah ini akan senantiasa selalu pada asholahnya. Pentingnya penentuan value juga harus diperhatikan. Jangan sampai nilai atau pesan yang disampaikan kontraproduktif, karena tidak sesuai dengan kebutuhan objek.

5. Documentation
    dokumentasi menjadi hal yang sangat mahal. kebiasaan diantara kita semua dokumentasi seringkali  terlupakan. sehingga tidak ada hal yang bisa diturunkan ke penerus kita di lembaga dakwah. Ada dua hal yang haru terdokumentasi dengan baik. pertama dokumentasi data seperti notulensi rapat,proposal, ide-ide, dan lain-lain.. kedua dokumentasi foto dan film kegiatan. penyimpanan data ini juga harus terorganisir dengan baik sehingga bisa jadi warisan penting bagi penerus dakwah kita di masa yang akan datang

Ditulis oleh
Ridwansyah yusuf achmad



Unknown
Mengapa harus dakwah sosial media??
Terkadang pertanyaan tersebut muncul dari beberapa aktivis dakwah kampus,
Kali ini saya mencoba berbagi ilmu yang saya dapat ketika mengikuti kelas Syiar media & komunitas dalam rangkaian acara IMSS FSLDKN XVI 2012..

Ok... mari coba kita jabarkan satu-persatu, kenapa kita harus dakwah sosial media?
1. Karena pengguna internet terbesar didunia adalah benua ASIA, dan indonesia menempati posisi ke- 4 sebagai pengguna internet terbesar di Asia
2. Indonesia salah satu negara yang membebaskan rakyatnya untuk berekspresi, oleh karenanya ADK wajib memanfaatkan peluang itu untuk berdakwah
3. Indonesia menempati urutan ke- 2 sebagai negara pengguna FB  terbesar di dunia
4. Indonesia menempati posisi ke- 1 sebagai pengguna twitter  didunia,
5. Dakwah melalui sosial media murah
6. Dakwah sosial media masuk ke titik personal seseorang, karena rata-rata pengguna FB & Twitter diakses melalui HP
7. Pengulangan materi yang disampaikan dapat masuk ke target

Setelah kita mengetahui alasannya coba kita masuk ke tahap selanjutnya, yaitu strategi :
1. Fokus, selalu fokus pada tema yang kita sampaikan.
2. Tajam, bahasa yang digunakan tajam dan terus istiqomah
3. konsisten, konsisten untuk terus menuliskan kebaikan-kebaikan melalui sosial media, kemudian muncul pertanyaan , bagaimana jika kita kehabisan materi yang akan disampaikan?atau hari ini gak ada inspirasi? Saat itu pemateri menyampaikan gunakan saja Riyadush Shalihin, hadist2 yang ada dibuku tersebut jika dituliskan bisa bwt bikin status satu tahun :)

Tips dakwah sosial media :
1. Kenali segmen
2. Hindari perdebatan
3. Update Informasi
4. Memperluas wawasan
5. Jangan berhenti belajar
6.Bahasa sesuai dengan yang diajak bicara

Contoh dakwah sosial media yang "Berani" : komunitas satu jari, indonesia tanpa JIL
Demikian yang dapat saya bagi dari kelas yang telah saya ikuti semoga bermanfaat untuk teman-teman yang berjuang dalam lingkaran dakwah.
Pemateri kelas syiar media & komunitas : Hafidz Ary Nurhadi
Unknown
Tahapan dakwah bisa di ibaratkan sebuah anak tangga menuju sebuah hasil. Berpegang pada tahapan ini membuat segala yang kita lakukan menjadi terarah. Tahapan ini tidak dibatasi oleh waktu, akan tetapi tahapan ini merupakan tahapan dimana ada kriteria yang harus dipenuhi sebelum memasuki tahapan selanjutnya. Sehingga bisa saja dalam salah satu tahapan setiap LDK menghabiskan waktu yang berbeda. Apa saja tahapan dakwah yang ada ? dalam tulisan ini saya akan mencoba memaparkan 4 tahap yang bisa dilalui.
Tahap Pertama : membangun basis kader inti
Dalam risalah dakwah yang Rasul ajarkan, sebagaimana kita ketahui ada golongan yang pertama masuk Islam atau kita kenal dengan Ashabiqunal Awwalun. Golongan pertama ini dibina dengan intens oleh Rasul dalam rangka menguatkan fondasi terdalam dan paling bawah dari bangunan Islam. Bisa kita cermati sirah nabawiyah, Rasul mendidik Sahabat ini selama 10 tahun, atau hampir setengah dari masa kenabian beliau, yakni 23 tahun. Sebagaimana yang dilakukan oleh Rasul. LDK pun akan melakukan hal yang sama, dengan tentunya waktu yang harus lebih cepat, karena kondisi dakwah kampus yang relatif singkat.
Kaderisasi yang dilakukan pada kader inti ini bersifat khusus dan terbatas, sehingga betul-betul segala yang dibutuhkan untuk dakwah kedepannya diharapkan bisa dimiliki oleh kader inti ini. Hal –hal apakah yang harus dimilki ? dalam hal ini ada 3 kebutuhan utama yang perlu dimiliki.
1.       Kepribadian seorang Muslim
kepribadian ini meliputi karakter-karakter yang diperlukan seseorang dalam kehidupannya agar ia bisa menjalankan Islam dan mengajarkannya. Seorang kader inti harus memiliki aqidah yang bersih, ibadah yang benar, akhlak yang baik, tubuh yang sehat, kemampuan menghasilkan atau kuat secara ekonomi, pikiran yang intelek, bersungguh-sungguh dan tekun dalam segala hal, memiliki manajemen diri yang baik, disiplin akan waktu serta mempunyai paradigma untuk selalu bermanfaat bagi orang lain. Dengan adanya kepribadian ini diharapkan seorang kader inti bisa menjadi teladan, bisa menjadi guru dan diterima di kalangan masyarakat luas.
2.       Kredibilitas dan Moralitas Pemimpin
Islam mendidik para umatnya untuk menjadi pemimpin bagi dirinya dan kalangannya. Dalam hal ini seorang kader inti, diharapkan bisa menjadi pemimpin dimanapun dia berada dalam rangka mengubah kondisi umat yang dipimpinnya menjadi lebih baik. Bukan untuk kekuasaan semata. Akan tetapi paradigma dakwah dan paradigma memberikan cahaya Islam di muka bumi harus terinternalisasi dengan baik di hati kader inti. Menjadi pemimpin adalah sebuah keniscayaan bagi seorang muslim. Sehingga dalam tahap ini seorang kader inti harus dididik bagaimana menjadi pemimimpin yang kuat dan bertanggung jawab. Seorang pemimpin yang bisa mengayomi seluruh umatnya, seorang pemimpin yang bisa menjadi ulama dan umara dalam waktu bersamaan.
3.       Kemampuan khusus lainnya
Setiap manusia dilahirkan dengan potensi , minat , dan bakat yang berbeda. Ada seorang yang ahli dalam hal seni, ada seorang yang mahir berdagang atau saat ini kita kenal dengan entrepreneur, atau ada yang ahli dalam olahraga, dan sebagainya. Kemampuan khusus ini haruslah dikembangkan dengan bijak dan tepat, karena potensi seseorang jika dikembangkan akan jauh lebih cepat dan pesat perkembangannya. Seorang kader inti sebagaimana Rasul juga mendidik sahabatnya , juga memiliki kekhasan tersendiri. Sebutlah Ali bin Abi Thalib yang cerdas dan gemar menuntut ilmu, Umar bin Khattab yang ahli bermain pedang, Mushaf bin Umair yang menjadi pedagang sukses, dan sahabat lainya, yang memiliki potensi besar dan digunakan dengan baik dalam pemanfaatannya untuk kebutuhan dakwah. Seorang kader inti yang ahli dalam seni, bisa jadi dikembangkan dan bisa menjadi kekuatan dalam mengemas dakwah yang lebih komunikatif, seorang yang gemar berolahraga dikembangkan potensinya dalam rangka untuk sebagai duta dakwah diantara para masyarakat yang gemar berolahraga, seorang yang gemar berbisnis, didukung aktifitas bisnisnya agar mampu mendorong perkembangan dakwah dengan kekuatan yang dimiliki.
Pendidikan kader inti ini menjadi tahapan pertama dan menjadi fondasi yang akan menopang agenda dakwah kedepannya. Sehingga perlu dicermati dan ditelaah juga berapa banyak kader inti yang akan ada dan dibina.Pembinaan ini juga harus komprehensif dengan waktu yang tepat. Dengan harapan bisa menjadi core  dalam membangun basis massa simpatisan.
Tahap Kedua : membangun basis massa
Setelah terbentuk kader inti , dakwah akan masuk di tahapan selanjutnya, yaitu membangun basis massa. Seringkali kita kenal istilah simpatisan, kurang lebih seperti itu yang akan kita bangun, akan tetapi tidak sekedar massa yang hanya mengatakan mendukung, akan tetapi massa yang senantiasa mengikuti pembinaan yang dilakukan oleh kita. Tujuan dari  membangun massa ini adalah memperkenalkan Islam, dan menjadikan Islam sebagai way of life. Islam yang komprehensif dan menjadi solusi dalam kehidupan. Ada dua metode utama dalam memperkenalkan Islam ini.
1.       Dakwah dengan melayani
Menilik sirah nabawiyah, proses yang Allah berikan kepada Nabi Muhammad SAW adalah menjadikan beliau Al Amin setelah itu mengangkatnya sebagai Rasul. Dalam hal ini bisa kita ambil kesimpulan bahwa Rasul telah sukses melayani kota mekah sehingga beliau diberi gelar tersebut barulah beliau berdakwah, pelayanan dahulu baru dakwah. Memberikan apa yang umat butuhkan, memang butuh kita sadari bahwa kebutuhan umat sangat variatif, akan tetapi justru di situlah seni bagaimana kita bisa membuktikan bahwa Islam bisa sebagai solusi dalam segala permasalahan yang ada. Jika kita membicarakan dakwah kampus, maka yang kita berikan haruslah sesuai dengan kebutuhan, sebutlah menyediakan informasi tempat tinggal yang murah dan nyaman, memberikan pelayanan fotokopi buku atau bahkan menyediakan buku kuliah dan catatan kuliah, menyediakan tempat bertanya terkait Islam dan syariatnya, memberikan informasi dalam bentuk tulisan, booklet tentang kampus, kota , dan lain sebagainya. Pelayanan ini bisa sangat variatif pula bentuknya sehingga semakin banyak yang memikirkan ini akan semakin banyak varian metode dakwah yang bisa digunakan.
2.       Dakwah dengan memimpin
Jika konsep dakwah sebelumnya dengan tipikal menyentuh grass root. Dakwah dengan memimpin adalah pendekatan yang lebih struktural. Walau sebenarnya tidak sekaku itu dalam pelaksanaanya. Dengan memimpin dalam sebuah kelompok, mulai dari kelompok kecil seperti ketua kelompok tugas, ketua kelas, ketua lomba riset hingga ketua kelompok yang lebih besar seperti ketua himpunan mahasiswa, ketua panitia dan sebagainya. Dengan memimpin ini seorang kader bisa menunjukkan bagaimana etos kerja yang dimilkinya bisa membawa kelompok tersebut kearah keberhasilan dan kearah lebih baik. Dalam memimpin ini seorang kader juga bisa berdakwah secara kecil-kecilan dan menanamkan kultur Islam di dalam kelompok. Seperti membiasakan shalat tepat waktu, memulai segala sesuatu dengan niat dan do’a, membiasakan berdo’a kepada Allah dalam setiap keadaan, dan memberikan sebuah nilai-nilai lainnya kepada objek dakwah. Sehingga timbul personal trust seseorang kepada kita , dan menilai bahwa kader kita adalah seseorang yang kuat dan bertanggung jawab, serta mulai meyakini bahwa pola hidup atau way of life  yang dilakukan dan dianut oleh kader kita adalah sebuah pemahaman yang baik. Harapan yang bisa timbul adalah kedepannya ada kepercayaan yang ada di masyarakat, dan ketika kader kita menyampaikan risalah Islam, tidak terjadi penolakan diantara masyarakat atau bisa dikatakan objek dakwah kita menerima apa yang akan kita sampaikan.
Setelah menjalani dua varian metode ini, dakwah ini juga butuh sebuah wadah yang bisa menampung simpatisan ini untuk mengikuti pembinaan dan menjadi bagian dari massa kita juga. Wadah ini diharapkan bisa menjadi media yang tepat dalam mengembangkan potensi simpatisan ini agar selanjutnya bisa menjadi kader dakwah pula. Sistem permentoringan atau dalam istilah lain kita kenal dengan usrah atau liqo’ atau halaqoh menjadi wadah yang sangat tepat untuk menampung dan membina para objek dakwah ini. Mentoring adalah proses transfer nilai antara mentor dan binaanya. Dalam proses mentoring ini seorang mentor diharapkan bisa membina 7-10 adik mentor atau binaanya dan memberikan ilmu serta pemikiran yang ada dalam rangka membuat frame berpikir yang Islami. Proses mentoring ini tidak hanya sampai pada tahapan memberikan ilmu, akan tetapi lebih lanjut, mentoring ini bisa menjadi sebuah keluarga kecil bagi para anggotanya. Oleh karena itu makan seorang mentor diharapkan bisa memilki beberapa fungsi , antara lain :
a.       Guru, seorang guru yang memberikan ilmu kepada muridnya
b.      Pemimpin, seorang pemimpin yang bisa mengarahkan binaanya menuju masa depan yang sesuai dengan koridor yang benar
c.       Kakak/Sahabat, sebagai tempat mencurahkan isi hati dikala susah dan butuh bantuan
d.      Da’i, dimana seorang mentor tidak hanya memberikan ilmu, akan tetapi juga menyiapkan binaanya untuk menjadi calon mentor di masa yang akan datang
Proses dalam mentoring ini bisa dengan mudah terus bertambah, dan bercabang hingga tidak terbatas, kader inti yang telah dibina sebelumnya sebisa mungkin menjadi mentor utama, dan diharapkan bisa mengembangkan cabang dan ranting kelompok mentoringnya hingga tak terbatas. Disinilah bagaimana kita akan menguatkan basis massa, basis massa yang kuat akan menopang dakwah ini dan memudahkan langkah kita untuk mebuat gerakan dakwah kita lebih terbuka dan masif.
Tahap ketiga : membangun basis institusi
Pada tahap ini dakwah yang dilakukan di kampus sudah mulai terlembagakan secara formal dan wajar dalam sebuah instansi dakwah bernama Lembaga Dakwah Kampus ( LDK ). LDK disini dibangun atas kebutuhan dan tuntutan dari basis massa yang ada, karena bagaimana pun sekelompok orang atau komunitas yang mempunyai tujuan perlu dilembagakan secara formal agar gerak dakwah menjadi lebih mudah dan legal. Perlu dipahami bahwa dengan mengikuti tahapan yang ada, pembangunan LDK ini menjadi lebih kepada kebutuhan alamiah ketimbang memaksakan pembangunan LDK. Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam memulai melegalkan dan mendirikan LDK ini.
a.       Basis Massa yang Setia
Dalam membuat sebuah lembaga di kampus, biasanya memerlukan quota minimal untuk mendirikannya. Quota minimal ini selain untuk memenuhi syarat birokrasi , juga untuk memastikan agar regenerasi dakwah yang ada dapat berjalan. Keberadaan basis massa ini diharapkan terdiri dari berbagai angkatan yang masih ada di kampus. Selanjutnya basis massa inilah yang akan menjadi bangunan yang kokoh dalam mengembangkan LDK di masa yang akan datang.
b.      Birokrasi Kampus yang Mendukung
Perlu dipahami bahwa keberadaan LDK tidak bisa terlepas dari kampus dan tata tertib serta birokrasi yang ada di dalamnya. Pendekatan personal ke pihak rektorat, dosen, dan birokrasi kampus lainnya adalah sebuah tuntutan yang perlu kita penuhi agar proses legalisasi ini bisa berjalan mulus. Pendekatan ini dilakukan sejak kita mempunyai basis massa, agar ketika jumlah massa yang dimiliki cukup, pendirian LDK menjadi lebih mudah.
c.       Bentuk Lembaga Dakwah Kampus
Menurut pengamatan saya ada beberapa bentuk yang bisa di ajukan sebagai wadah legal formal LDK. Bentuk LDK yang pernah ada antara lain.
Pertama, LDK sebagai unit kegiatan mahasiswa, dimana LDK sebagai unit kerohanian, ini adalah bentuk ideal dan paling diharapkan bisa terbentuk.
Kedua , LDK dengan bentuk Dewan kesejahteraan Masjid, bentuk LDK seperti ini, jika ternyata sudah ada LDK lain di kampus, atau pihak birokrasi ternyata tidak setuju dengan adanya LDK.
Ketiga , LDK berada di bawah Badan Eksekutif Mahasiswa ( BEM ), LDK ini berada di bawah departemen kerohanian di BEM.
Keempat, Jika ternyata sudah ada LDK lain yang kuat, pergerakan dakwah ini bisa dengan membangun basis lembaga dakwah di Fakultas, dengan bentuk LDF, perlu disadari bahwa massa real  yang ada kampus berada di fakultas, dan dengan adanya lembaga di fakultas ini daya rangkul kader kita akan lebih optimal.
Kelima, Jika ternyata, di kampus sudah ada LDK lain, yang mungkin kurang begitu aktif, dan pihak birokrasi tidak mengizinkan adanya LDK lagi, maka proses infiltrasi ke LDK yang sudah ada menjadi pilihan. Dengan basis massa yang sudah kuat dan setia, kader kita bisa saja secara bertahap mengisi pos-pos yang ada di LDK tersebut, hingga suatu saat ketua LDK beserta jajaran tim intinya adalah kader kita yang punya pemikiran dan gerak dakwah yang sesuai, memang butuh waktu lama akan tetapi, pola ini akan lebih “cantik” dan “apik”.
Setelah Lembaga ini terbentuk perlu dipenuhi beberapa syarat kelengkapan lembaga agar fungsi lembaga dakwah ini bisa optimal. Kelengkapan ini antara lain.
Pertama, Adanya tata organisasi yang sesuai, adanya ketua,sekretaris,bendahara, dan ketua departemen . Untuk LDK mula, departemen yang dibutuhkan antara lain, departemen kaderisasi, departemen syiar dan pelayanan kampus, serta departemen dana. Tiga departemen ini bisa dikatakan kebutuhan dasar sebuah LDK. Dengan pertimbangan jumlah SDM yang terbatas, adanya tiga departemen ini seharusnya bisa menjalankan fungsi LDK dengan baik. Dalam perkembangannya, sebuah LDK diharapkan bisa memenuhi beberapa fungsi lainnya yang menjadi fungsi pokok ( sektor dakwah ) dan diturunkan dalam bentuk departemen, yakni :
a.       Sektor Internal ( kaderisasi, mentoring, rumah tangga )
b.      Sektor An nisaa /  Kemuslimahan
c.       Sektor Syiar dan Pelayanan Kampus ( media, event )
d.      Sektor Keuangan
e.      Sektor Jaringan ( Humas )
f.        Sektor Akademik dan Profesi
g.       Sektor Kesekretariatan ( administrasi, Litbang )
Tujuh sektor ini adalah representatif dari bentuk serta fungsi yang harus dipenuhi LDK dalam keadaan ideal. Memang butuh waktu dalam membangun LDK hingga tahap ini, akan tetapi bisa saja dalam proses perkembangan LDK , dua fungsi bisa digabung dalam satu departemen. Tergantung dari kapasitas dan kuantitas kader yang ada.
Kedua ,  Diperlukannya sebuah tata nilai dan tata hukum atau pedoman dakwah yang diberlakukan di sebuah organisasi termasuk LDK. Kebutuhan pedoman dakwah ini, antara lain Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga, Visi dan Misi serta perangkat sederhana lainnya yang bisa membuat kader kita terarah dalam menjalankan gerak dakwahnya. Seiring waktu, sebuah LDK juga perlu memiliki pedoman dakwah yang lebih advance, ada beberapa contoh disini, Saudara kita di SALAM UI mempunyai Manajemen Mutu SALAM UI (MMS UI), dimana di dalamnya terdapat berbagai aturan dan norma serta standarisasi yang digunakan dalam pengelolaan LDK. Kawan-kawan di UNDIP, memiliki sebuah komitmen bersama antara LDK dan LDF sehingga gerak dakwah LDK dan LDF menjadi sinergis, di GAMAIS ITB, kami memiliki Pedoman Lembaga Dakwah Kampus GAMAIS ITB ( PLDK GAMAIS ITB ), dimana di dalam nya terdapat blue print GAMAIS ITB 2007-2013, Rencana Strategis Jangka Panjang 2008-2010,dan Panduan Fiqih Praktis Aktifis Dakwah. Berbagai bentuk yang ada disesuaikan tergantung kebutuhan dari LDK, semakin besar LDK, semakin detail pula aturan yang ada, karena dalam tahapan kemandirian LDK, sistem lah yang akan dibangun, karena dengan sistem yang kuat, akan menghasilkan kader yang kompeten pula di masa yang akan datang.
Ketiga, Adanya mekanisme kaderisasi berkelanjutan bagi kadernya. LDK adalah lembaga kaderisasi, sehingga fungsi kaderisasi atau membina kader menjadi fungsi utama, dan harus senantiasa menjadi dinamo yang tidak kenal henti. Sebuah lembaga yang baik haruslah memberikan kemanfaatan bagi kadernya. Meningkatkan kapasitas serta keilmuan yang bisa menunjang aktifitas kader di LDK maupun di kehidupan sehari-hari. Ini menjadi syarat yang mutlak untuk memastikan sistem regenerasi LDK ini bisa berkelanjutan dan membuat dakwah kita di kampus bisa bertahan lama.
Tahap Keempat : Membangun bangunan kampus secara keseluruhan dengan konsep Islam
Legalitas LDK yang ada memudahkan gerak dakwah kita menjadi lebih dinamis dan bebas. Kekuatan formal lembaga ini memberikan banyak kemudahan bagi kita untuk berbuat lebih di kampus. Pada tahap keempat ini varian metode dan objek dakwah semakin luas, dan bisa dikatakan tidak terbatas, semua tergantung manajemen kreatiftas dan inovasi dari kader LDK. Lingkup dakwah pertama yang harus dipenuhi adalah civitas akademika di kampus kita. Selanjutanya bisa meningkat menjadi lingkup Kota lalu nasional, dan Internasional. Pada lingkup civitas akademika  ini ada beberapa stakeholder yang bisa kita lakukan pendekatan dakwah.
Mahasiswa, objek utama dalam dakwah kampus kita, ketika lembaga sudah ada, metode dakwah bisa kian variaif. Pembuatan event syiar, seperti ta’lim, tabligh, outbound, kajian, olahraga bareng atau mungkin mabit. Media LDK juga bisa semakin terbuka, seperti pamflet, poster, spanduk, baligo, atau perangkat multimedia lainnya. Dengan adanya lembaga yang legal, agenda syiar pun seharusnya akan mendapat respons lebih dari massa kampus. Akan tetapi walaupun sudah ada lembaga yang formal, metode dakwah dengan pelayanan, dakwah dengan memimpin serta wadah mentoring yang ada harus tetap dijalankan. Karena ini merupakan metode klasik yang masih bisa digunakan sampai kapanpun.
Dosen ,  dakwah ke dosen butuh pendekatan yang lebih persuasif, cara dakwah ke dosen bukan dengan menceramahinya akan tetapi dengan memberikan kesempatan kepada beliau untuk mengisi di acara-acara LDK sesuai dengan kompetensinya atau melibatkan dosen dalam kegiatan seperti sebagai penasihat atau tempat konsultasi. Selain itu memberikan sedikit kenang-kenangan kepada dosen, seperti buku, bisa menjadi media dakwah yang tepat untuk dosen, karena dosen biasanya gemar membaca. Dengan adanya keterlibatan ini, dosen akan mempunyai sense of belonging  terhadap LDK dan akan lebih peduli terhadap gerak dakwah kita dan LDK kita.
Birokrasi kampus, pendekatan ke birokrasi kampus hampir sama dengan pendekatan ke dosen. Akan tetapi bisa ditambah dengan silahturahim rutin dalam rangka meningkatkan kedekatan dan kepercayaan satu sama lain. Dengan kedekatan dan kepercayaan ini, gerak dakwah kita akan lebih di dukung dan bisa lebih cepat berkembang.
Karyawan Kampus, karyawan dalam hal ini ada elemen administrasi kampus, satpam, penjaga kantin, merupakan bagian dari kampus yang perlu kita dakwahi. Keteladanan kita, budi pekerti serta akhlak yang baik serta dikenal sebagai mahasiswa yang bermoral menjadi metode dakwah yang bisa digunakan, dukungan dari karyawan kampus ini biasanya juga akan mendukung dakwah secara umum. Karena jumlah mereka yang banyak dan punya peran di kampus. Selain itu, pengadaan ta’lim khusus karyawan atau mungkin memberikan bingkisan untuk mereka di momen tertentu bisa menjadikan kedekatan kita dengan mereka lebih erat.

Pengamatan saya menilai tidak ada metode dakwah yang terbaik diantara metode dakwah di berbagai kampus, yang ada adalah metode dakwah yang tepat. Setiap kampus mempunyai kekhasan tersendiri, dan menjadi tanggung jawab bagi kita untuk bisa mengformulasikan metode dakwah yang paling tepat untuk kampus kita. Berpegang pada tahapan ini, akan sangat membantu paradigma berpikir kita dalam mengembangkan Lembaga Dakwah Kampus.

Tulisan ini ditujukan untuk semua aktifis dakwah di Indonesia
Terutama untuk saudara ku yang sedang berjuang membangun LDK
Untuk saudaraku yang sedang berjuang menguatkan LDK
Untuk saudaraku yang akan mempercepat pertumbuhan LDK di wilayahnya
Dari LDK mula, LDK muda, LDK madya, dan hingga LDK mandiri

Ditulis oleh
Ridwansyah yusuf achmad
Kepala LDK GAMAIS ITB
http://ridwansyahyusuf.blogspot.com
yusuf_ahdian@yahoo.co.id
ridwansyahyusuf@gamais.itb.ac.id

tulisan ini boleh disebarluaskan secara bebas dengan mencantumkan identitas penulis
semoga bermanfaat


Unknown

I. Tujuan Kegiatan

1. Membangun dan mengembalikan ruh gerakan KAMMI

2. Membangun kesolidan tim dan organisasi

3. Membangun iklim kompetisi yang membangun

4. Rihlah pengurus KAMMI Daerah dan komisariat

5. Mempererat ukhuwah antara KAMDA dan komisariat

6. Membangun kepemilikan/kecintaan/kebanggaan pada KAMMI

II. Grand Design

1. Kemah selama 3 Hari di Bumi perkemahan yang telah ditentukan dan regu harus sudah siap ditempat pada hari tanggal pelaksanaan jam 15.00 WIB

2. Peserta langsung datang ke tempat kegiatan sesuai dengan waktu yang telah ditentukan dan panitia tidak menyediakan transportasi ke sana

3. Selama tiga hari itu semua persiapan dan kebutuhan kemah diatur oleh tim/regu di tiap komisariat (tenda, makan dan minum, dan segala sesuatu yang menyangkut kebutukan hidup selama tiga hari itu)

III. Sasaran Kegiatan

Diutamakan pengurus komisariat atau calon pengurus yang akan menjadi pengurus (50% pengurus dan 50% calon pengurus) yang tergabung dalam 2 tim/regu (satu komisariat terdiri dari tim ikhwan 5 orang dan tim akhwat terdiri dari 5 orang)

Dari kegiatan ini diharapkan :

1. Terbentuknya pemahaman yang integral tentang peran KAMMI

2. Terbentuknya rasa tanggung jawab sebagai pengurus KAMMI

3. Terbangunnya gambaran rencana strategis KAMMI ke depan pasca kegiatan

4. Kembalinya semangat untuk berjuang dalam da’wah KAMMI


PETUNJUK TEKNIS (JUKNIS)

JAMBORE UKHUWAH KAMMI SEMARANG

I. Abstraksi.

Kegiaran ini melibatkan seluruh komisariat di bawah KAMMI Semarang. Setiap komisariat wajib mengikuti kegiatan ini denngan mengirimkan dua regu yang terdiri 5 orang ikhwan dan 5 orang akhwat yang akan mewakili dalam lomba-lomba yang akan dilaksanakan dalam kegiatan ini. Setiap komisariat yang terdiri atas dua regu wajib membawa peralatan sendiri-sendiri, panitia tidak menyediakan perlengkapan cadangan buat peserta dan apabila melanggar akan dikenakan sangsi yang tegas dan mengikat. Kebutuhan makan dan minum tanggung jawab setiap regu untuk menyiapkan , sedangkan panitia hanya ssebagai failitator pelaksana dan juri untuk memperebutkan piala dan plakat jambore ukhuwah KAMMI Semarang, dengan reward : piala bergilir dengan akumulasi penilaian dari juri, hadiah berdasarkan penilaian dari lomba-lomba , tugas dan kreativitas regu dan mendapatkan kenang-kenangan jambore ukhuwah dari KAMDA kepada komisariat atau ke setiap peserta. Setiap regu menyusun nama regunya sesuai dengan nama pejuang Islam (Nama Sahabat). Acara ini terdiri atas lomba-lomba seperti lomba masak, lomba orasi, cerdas cermat, api unggun, unjuk kreativitas, materi tentang ke-KAMMI-an, outbond dan sarasehan. Setiap peserta wajib mengikuti seluruh acara kecuali satu orang sebagai petugas jaga dan petugas masak di setiap tim (tenda), baik ikhwan maupun akhwat yang mempersiapkan kebutuhan regu di tenda secara bergiliran, kecuali untuk acara tertentu yang wajib diikuti seluruh peserta tanpa kecuali. Selama kegiatan berkangsung peserta tidak diperbolehkan membeli makanan dari luar dan tidak diperkenankan meninggalkan acara, setiap regu mendapat giliran untuk memimpin sholat, meliputi menjadi muadzin, imam dan memberi kultum kepada jama’ah shalat. Pada waktu istirahat ada yang bertugas secara bergiliran untuk berjaga di regunya masing-masing.Setelah selesai acara nantinya akan di berikan awards kepada tim terbaik atas nama komisariat (tim ikhwan dan akhwat)

II. Peserta

1. Setiap komisariat mengirimkan 2 regu (1 ikhwan, 1 akhwat) dimana satu regu terdiri dari 5 orang ( 5 ikhwan dan 5 akhwat = 10 orang)

2. Apabila ada komisariat yang belum bisa mencapai satu regu akan tetapi ingin mengikuti jambore maka akan digabung atau merger dengan kampus lain sehingga memenuhi jumlah untuk 1 regu.

3. 1 regu terdiri dari 5 orang dalam komisariat baik tim ikhwan maupun tim akhwat (1 orang sebagai mas’ul), sehingga 1 komisariat ada 2 tim.

4. Setiap regu harus mempunyai identitas yang terdiri dari :

- Nama dan bendera regu ( bendera Komisariat) Wajib tiap regu, dengan ketentuan:

1. Nama regu adalah nama sahabat nabi atau nama-nama tokoh pejuang islam

2. Selain bendera KAMMI komisariat, setiap regu wajib membuat simbol /logo regu masing-masing yang digambarkan di bendera yang dipasangkan di tenda masing-masing tim/Simbol-simbol lain tergantung kreativitas masing-masing komisariat sebagai identitas yang nantinya akan mendapatkan penilaian dari panitia dan dipasang dibawah bendera komisariat.

3. Nama regu dan Komisariat ditulis dibendera regu . Ukuran bendera regu (50x75)cm berwarna dasar putih, warna lain bebas

4. Setiap regu harus mempunyai yel-yel khas terserah kreasi dari tiap regu

5. Gambar model bendera :

Gambar simbol regu

Nama sahabat-Nama Komisariat

- Seragam “uniform” ( misal : sleyer, kaos, Baju Koko, Topi, Rompi, Jilbab ) setiap regu wajib mempunyai identitas yang berbeda dengan komisariat lain. Seragam ini sifatnya tidak memberatkan akan tetapi justru akan memunculkan ide kreativitas dari peserta.

III. PENDAFTARAN

1. Setiap regu yang mendaftar mengisi formulir pendaftaran

2. Pendaftaran peserta dilakukan sebelum hari H paling lambat tanggal 20 Februari 2012

3. Biaya pendaftaran sebesar Rp. 50.000/regu (Rp. 100.000/ komisariat) yang diberikan pada saat pendaftaran.

4. Biaya pendaftaran ini diluar biaya konsumsi selama 3 hari.

5. Apabila ada regu yang mengundurkan diri maka biaya yang telah dibayarkan tidak bisa diambil kembali.

IV. TECHNICAL MEETING

1. Technical meeting diikuti minimal oleh 2 orang perwakilan setiap komisariat (terdiri satu ikhwan dan satu akhwat)

2. dilaksanakan disekretariat KAMMI Semarang : Jalan Ngesrep Timur II/20 Semarang. Pada tanggal 25 Februari 2012 pkl 13.00

3. Undian untuk jadwal imam sholat /muadzin/kultum, dll pada saat technical meeting/registrasi.

V. ACARA

1. Registrasi dan Pendirian Tenda

- Peserta datang sendiri (boleh per regu/Per komisariat/ korpus) dan tepat waktu

- Ketua regu melakukan registrasi sekaligus mengambil nomor kapling tenda dan cocard yang telah disediakan oleh panitia.

- Semua perlengkapan dan kebutuhantenda dikoordinir panitia, namun pendirian tenda dilakukan secara mandiri oleh peserta

- Peserta diperbolehkan sebebas mungkin berkreativitas untuk pendirian tenda seperti pembuatan gapura dan pagar, mendirikan tenda dapur dsb.

- Peserta diharapkan untuk memanfaatkan waktu sebaik mungkin agar tidak terjadi kemoloran dan waktu luang atau nganggur.

2. Upacara Pembukaan

- Upacara pembukaan dilakukan tepat pada pukul 16.00 WIB

- Seluruh peserta harus mengikuti upaca pembukaan secara serius

- Identitas/simbol regu serta cocard digunakan semenjak upacara pembukaan

- Upacara akan diisi denga sambutan-samburan (Ketua Panitia, dan akan dibuka oleh Ketua Umum Pengurus Daerah KAMMI Semarang)

3. Ishoma

- Sholat wajib dilakukan secara berjama’ah di lokasi perkemahan yang dikoordinir oleh panitia yang bekerja sama dengan ketua regu, setiap regu mendapatkan giliran untuk memimpin sholat, meliputi menjadi mu’adzin, imam dan memberi kultum kepada jama’ah sholat. Pada waktu istirahat ada yang bertugas secara bergiliran untuk berjaga di regunya masing-masing.

- Makan dan minum di koordinir dan disediakan oleh masing-masing regu dengan mekanisme piket, sehingga segala perabotan masak dan alat makan disediakan secara mandiri oleh peserta

- Pada saat lomba masak, makan yang dibuat regu tersebut di makan secara bersama tim membentuk lingkaran besar dan makanan tersebut di makan secara bergantian, berputar sampai habis sedangkan untuk waktu makan yang lain tergantung pada tiap regu.

4. Materi

Materi bermuatan dan membedah tentang visi, Misi, dan Kredo Gerakan KAMMI ( Jati diri yang mewujud)

5. Sarasehan

Dalam sarasehan ini akan mengundang alumni pengurus KAMMI Daerah Semarang

6. MKP (Mencukupi Kebutuhan Pribadi)

- mandi, persiapan makan dan bersih-bersih

- Peserta memanfaatkan waktu yang dipersiapkan sebaik-baiknya

7. Tausyiah

- Seluruh peserta kecuali yang piket wajib mengikuti tausyiah ba’da sholat maghrib berjama’ah dan Qiyamullail

- Tausyiah akan diisi oleh al Akh yang telah ditunjuk/ piket

8. Qiyamullail, Sholat Wajib, dan Al Matsurat

- dilakukan secara berjama’ah

- Peserta membawa peralatan ibadah sendiri-sendiri, seperti alas dari matras, tikar, mantol, mushaff, dan sajadah

- Seluruh peserta mengikuti acara ini.

9. Wide Game

- Format Outbond dan game

- Bersifat kompetitif tiap regu

- Menempuh rute yang terdiri dari pos-pos dan ada penugasan untuk regu

- Perlengkapan yang harus dibawa : pakaian lapangan, sepatu kets, alat sholat, obat-obatan, tongkat, topi, slayer


10. Jenis Perlombaan Meliputi :

10.1. Lomba Masak

- Tujuan : - Untuk membiasakan hidup mandiri

- Sebagai ajang untuk saling unjuk kreativitas antar tim

- Menumbuhkan potensi peserta

- Bentuk :

a. Setiap tim menyiapkan alat dan bahan sendiri

b. Halal dan Thoyib menjadi syarat mutlak, baik secara materi maupun dalam pengolahannya. Tidak diperkenankan menggunakan MSG dan sejenisnya,

c. Setelah dinilai juri, maka masakan yang dibuat tim tersebut dimakan secara bersama, sampai habis

d. Tema : Mempersiapkan / Bekal Berjuang

e. Kriteria penilaian :

- Rasa dan performance

- Kualitas Gizi

- Kebersihan dan kerapian

10.2. Lomba Orasi

Kriteria Penilaian :

- Muatan Tema yang disampaikan

- Komunikasi masa : mampu mengkomunikasikan peserta , mampu memahami karakteristik peserta serta mampu membaca gerakan peserta

10.3. Lomba Cerdas Cermat

- Terdiri atas satu tim gabungan ikhwan dan akhwat (satu komisariat)

- Setiap regu merupakan satu komisariat dan berhak memberikan suara atau jawabannya

- Soal : Kisi-kisi soal; Tentang ke-KAMMI-an, wacana kontemporer, Syumulliyatul Islam, dan tentang dunia Islam.

- Juri : Terdiri atas Ketua Departemen yang berjumlah 5 orang, dan ketua Umum Pengurus Daerah KAMMI Semarang

- Bentuk Lomba : terdiri atas 3 babak (Penyisihan, Semi Final, dan Final)

11. OBT

Outbond terdiri dari beberapa pos. Pos-pos tersebut terdiri atas : Tarbiyah Jasadiyah, Ukhuwah, Tim Bulding, Amal jama’I, Teka-teki, Tarbiyah Fikriyah (siyasat), Dan materi tentang Kredo Gerakan.

12. Waktu Pelaksanaan : Jum’at-Ahad, 2-4 Maret 2012

13. Tempat Pelaksanaan : Nglimut, Gonoharjo

14. Peralatan yang harus dibawa oleh peserta tim :

a. Tikar

b. Bendera KAMMI Komisariat

c. Peralatan masak dan bahan terserah yang akan dimasak

d. Jagung yang di bakar pada malam hari untuk api unggun. Minimal tiap tim membawa 5 buah ( 14 buah/komisariat)

e. Peralatan Pribadi : kantung tidur, jas hujan, peralatan mandi, peralatan sholat, mushaf, peralatan makan

f. tongkat

g. Senter

h. Makan,Minum

i. Kayu bakar : satu regu membawa min. 10 kayu bakar

j. Kompor minyak tanah/kompor gunung

k. Minyak tanah

l. Lampu badai

15. Team Disiplin

- Merupakan bagian dari panitia yang bertugas mengkondisikan peserta agar tetap disiplin dalam mengikuti setiap rangkaian kegiatan acara Jambore Camp.

- Memberikan sangsi kpd peserta ketika melanggar dari kriteria yang sudah ditetapkan oleh panitia, seperti tidak membawa peralatan yang harus dibawa peserta

- Berwenang dalam melakukan pengkondisian peserta maupun panitia bila dirasa perlu oleh tim disiplin

16. Sangsi dengan Ketentuan

- sangsi diberikan kepada peserta yang melanggar peraturan atau tidak disiplin

- Sangsi yang diberikan harus jelas dan mendidik

- Sangsi yang diberikan berupa sangsi fisik dan psikis yang bertujuan untuk mendidik peserta untuk senantiasa disiplin dan enjoy dalam mengikuti Jambore Ukhuwah

- Sangsi yang diberikan harus tetap mengacu pada tujuan Jambore Camp (Membangun Kesolidan, Ruh Gerakan, Militansi dan Ukhuwah)

- Jenis Sangsi :

§ Sangsi ringan, jenis hukuman ; peringatan lisan

§ Sangsi sedang, jenis hukuman; Peringatan lisan dan iqob lari lapangan sebanyak dua kali dan meresume buku

§ Sangsi berat, Jenis hukuman; Iqob Rp. 10.000,00, push up 2 seri (20 kqli)Squad jump 2 seri, meresume Buku

§ Kategori sangsi :

Apabila tidak membawa alat/ perlengkapan dibawah :

a. Tikar (Sangsi sedang)

b. Bendera KAMMI Komisariat (sangsi sedang)

c. Peralatan masak dan bahan terserah yang akan dimasak (sangsi berat)

d. Jagung yang di bakar pada malam hari untuk api unggun. Minimal tiap tim membawa 5 buah (14 buah/komisariat) ( sangsi sedang)

e. Peralatan Pribadi : kantung tidur, jas hujan, peralatan mandi, peralatan sholat, mushaf, peralatan makan ( sangsi sedang)

f. tongkat (sangsi sedang)

g. Senter ( sangsi sedang)

h. Makan,Minum ( sangsi berat )

i. Kayu bakar : satu regu membawa min. 10 kayu bakar (sangsi berat)

j. Kompor minyak tanah/kompor gunung (sangsi berat)

k. Minyak tanah (sangsi berat)

l. Lampu badai (sangsi berat)

m. Yel-yel (sangsi berat)

n. identitas komisariat (sangsi berat)

o. Bendera regu(komisariat) (sangsi berat)

17. Kontrak Kerja :

a. Peserta harus mengikuti kegiatan dari setiap sesi di acara Jambore Camp dengan baik

b. Peserta harus mematuhi segala aturan dan norma yang berlaku dengan baik

c. peserta harus menjaga akhlakul karimah dengan sesama peserta atau panitia

d. peserta ikhwan harus menjaga kesyar’ian ketika melakukan koordinasi maupun komunikasi dengan akhwat

e. Peserta dilarang keras meninggalkan lokasi tanpa seijin panitia

f. Peserta harus memperhatikan lingkungan /bi’ah sekitar lokasi jangan sampai membuat kegaduhan dan keributan yang dapat mengganggu berlangsungnya kegiatan.

g. Peserta diwajibkan mengenal satu sama lain dan mempererat ukhuwah dan tali silaturahim

h. Peserta dilarang keras membawa benda-benda berbahaya dan narkoba